° TEHNIK WAWANCARA °
Wawancara Jurnalistik
untuk menjadi seorang Jurnalis atau wartawan, ada keahlian atau kemampuan yang harus dimiliki agar dapat mengumpulkan informasi yang bisa dijadikan sebagai berita serta tidak menyalahi Kode Etika Jurnalistik, yaitu dengan Wawancara.
Wawancara jurnalistik adalah wawancara yang dilakukan wartawan dengan sumber berita untuk mendapatkan informasi yang menarik dan penting bagi khalayak. Dengan demikian, wawancara jurnalistik bukan untuk kepentingan wartawan maupun kepentingan sumber berita, tapi untuk kepentingan khalayak. Maka pemilihan topik wawancara maupun penentuan sumber yang akan diwawancarai harus berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan khalayak.
Itulah mengapa hasil wawancara jurnalistik selalu menarik bagi khalayak, karena memang dirancang untuk kepentingan mereka. Apalagi kalau sumber yang dipilih adalah sumber yang sangat kompeten dan menarik, pasti hasil wawancaranya akan menarik meski ditulis oleh wartawan yang tidak terkenal. Sebab hasil wawancara tersebut akan memberi informasi sekaligus menghibur mereka.
Ragam wawancara jurnalistik sebagai berikut:
Wawancara dengan perjanjian, biasanya dilakukan dengan sumber sudah dikenal luas (wellknow subject). Kelebihannya, informasi yang didapat sangat ekslusif, tidak diketahui oleh wartawan lain. Namun wawancara seperti ini perlu persiapan matang agar mendapat hasil maksimal.
Konferensi Pers, yaitu beberapa wartawan memenuhi undangan seseorang atau lembaga untuk mendengar penjelasan, lalu diberi kesempatan mengajukan pertanyaan. Biasanya waktu wawancara sangat singkat sehingga pertanyaan sangat terbatas. Juga informasinya bersifat terbuka, semua wartawan memperoleh informasi yang sama.
Wawancara on the spot, yaitu wawancara di tempat kejadian, misalnya kecelakaan atau bencana. Kelemahannnya, pertanyaan diajukan secara spontan kepada orang yang tidak dikenal. Wawancara dilakukan dalam situasi psikologis yang sangat tidak kondusif bagi sumber yang diwawancara, misalnya masih sangat emosional akibat bencana tersebut.
Wawancara cegat pintu (door stop), yaitu wawancara dengan cara mencegat tokoh di tempat acara. Keuntungannya, bisa mendapatkan jawaban spontan karena sumber tanpa persiapan sebelumnya. Kelemahannya, wawancara kadang berlangsung di tempat ramai dalam suasana terburu-buru.
Wawancara telepon, yaitu wawancara jarak jauh memanfaatkan media telepon. Kelebihan wawancara ini, bisa dilakukan kapan saja dengan biaya murah. Istilahnya, “kita bisa masuk ke dapur orang tanpa harus mengetuk pintu”. Kelemahannya, tidak semua sumber bersedia diwawancarai dengan cara ini. Juga tidak bisa melihat nuansa (roman muka dan gerak-gerik) orang yang diwawancarai.
Wawancara online, yaitu memanfaatkan media internet untuk menghubungi sumber. Persoalannya di Indonesia, masih sedikit yang sudah akrab dengan teknologi ini, sehingga jarang ada yang bersedia melakukan wawancara seperti ini.
Wawancara tertulis, yaitu mengajukan pertanyaan tertulis agar sumber menjawab secara tertulis. Kelebihannya, wartawan bisa menyusun pertanyaan secara lengkap dan sumber bisa menjawab dengan menyertai data. Kelemahannya, belum tentu si sumber mau dan memiliki cukup waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Kalaupun kita memperoleh jawabannya, belum tentu berasal dari sumber yang dimaksud.
Selain pembagian kategori wawancara menurut cara melakukan nya ada dua macam wawancara, yaitu yang pertama wawancara membuat berita kutipan (qoute story) yang di sebut juga talking news dan yang kedua membuat berita yang didasarkan oleh wawancara.
Jurnalisme modern mengenal tiga bentuk berita yang dihasilkan dari tiga macam wawancara seperti berikut ini : (1) wawancara berita(news interview) sebuah bentuk wawancara untuk memberitakan suatu keterangan ahli tentang suatu masalah yang sedang hangat (2)wawancara profil pribadi(personality interview) yang tujuan nya adalah memberikan kesempatan kepada sosok yang di wawancarai untuk mengungkapkan kepribadian nya melalui kata kata nya sendiri (3)wawancara kelompok(symposium interview) dimana pandangan atau sikap sejumlah responden yang kadang kadang besar jumlah nya, diangkat menjadi berita.
Perhatikan 3 wawancara berita diatas topik nya adalah masalah yang hangat yang di wawancarai adalah pihak pihak yang umum nya akan di terima oleh khalayak ; penjelasan nya bertujuan untuk menyingkap fakta yang tertutup kabut menjadi fakta yang menimbulkan perasaan lega karena di pahami.
Refrensi :
JURNALISTIK TEORI DAN PRAKTIK
pengantar prof.Dr.Muhammad Budyatna, M.A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar