Senin, 28 Mei 2018

PENGERTIAN BAHASA JURANLISTIK

Pengertian Bahasa Jurnalistik

BAHASA Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita.

Sebutan lain bahasa jurnalistik adalah bahasa media, bahasa pers, dan bahasa koran (newspaper language).

Dengan menggunakan bahasa khas wartawan ini, maka tulisan di media menjadi ringkas, padat, mudah dipahami, efektif, efisien, dan enak dibaca.

Wartawan dapat meringkas banyak fakta dan memadatkan makna dalam sebuah kata atau kalimat.
Bahasa jurnalistik disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio  dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak dan online), dengan ciri khas singkat/ringkas, lugas, padat, dan mudah dipahami.

Bahasa Jurnalistik membuat tulisan di media komunikatif. Artinya, langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi.

Bahasa Jurnalistik juga spesifik, yaitu mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya ringkas dan jelas, serta mudah dimengerti orang awam (menggunakan bahasa yang biasa digunakan secara umum).

Bahasa Jurnalistik hadir atau diperlukan oleh insan pers atau awak media untuk kebutuhan komunikasi efektif dengan pembaca (juga pendengar dan penonton).

Pengertian Bahasa Jurnalistik
Berikut ini beberapa Pengertian Bahasa Jurnalistik menurut para ahli dan praktisi media.

Menurut Rosihan Anwar, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancer, jelas, lugas, dan menarik.

Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.

Menurut Wojowasito, bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal.

Bahasa jurnalistik digunakan agar sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikiantuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan.

Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok.

Menurut Yus Badudu, bahasa suratkabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.

Mengingat orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar, bahasa jurnalistik harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.

Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Karakteristik atau ciri-ciri bahasa jurnalistik yang utama adalah sebagai berikut:

Hemat Kata. Memilih kata yang lebih ringkas: kemudian = lalu, kurang lebih = sekitar, melakukan pencurian = mencuri, memberikan saran = menyarankan.
Lugas. To the point, tidak berbunga-bunga, tidak menggunakan kata-kata berona (colorful words): menitikkan air mata = menangis; memiliki sebuah asa = berharap.
Umum/Sederhana. Menggunakan kata-kata populer yang dipahami orang awam.
Menghindari Kata Mubazid dan Kata Jenuh.
Penggunaan bahasa jurnalistik dalam penulisan berita atau artikel akan membuat naskah menjadi ringkas, padat, mudah dipahami, efektif, efisien, dan enak dibaca.

Dalam menulis berita, wartawan mengacu pada formula 5W+1H, meliputi Siapa (Who) melakukan Apa (What), Kapan (When), di mana (Where), Kenapa (Why), dan Bagaimana (How).

Dengan menggunakan bahasa jurnalistik, sebuah peristiwa, misalnya Aksi Demonstrasi, dapat disusun naskah beritanya sebagai berikut:

Ratusan Mahasiswa Bandung berunjuk rasa, Selasa (11/7/2015), di depan Gedung Sate Jln Diponegoro Kota Bandung, untuk menuntut pemerintah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Aksi dilakukan setelah muncul kabar pemerintah akan menaikkan harga BBM bulan depan. Aksi berlangsung damai.

Dalam contoh di atas, dalam penulisan unsur waktu, bahasa jurnalistik cukup menuliskan Selasa (11/7/2015), bukan pada hari Selasa tanggal 11 Juli 2015.

Unsur tempat cukup ditulis di depan Gedung Sate Jln Diponegoro Kota Bandung, tanpa menuliskan bertempat di depan Gedung Sate.

Bahasa Jurnalistik menghindari penggunaan kata/kalimat panjang, seperti:

kemudian > lalu
kurang lebih > sekitar
melakukann pencurian > mencuri
mengalami penurunan > turun, menurun
pada hari Senin > Senin
pada tanggal 10 Januari 2017 > 10 Januari 2017
tanggal 17 Agustus 2017 mendatang > pada 17 Agustus 2017
Dalam penulisan berita, banyak wartawan yang sering “melupakan” bahasa khasnya ini.

Misalnya, banyak ditemukan penulisan 29 Juli mendatang ketimbang 29 Juli 2015. Kata “mendatang” dan “lalu” sering muncul saat menuliskan unsur waktu.

BERIKUT MMERUPAKAN PENGERTIAN DARI BAHASA JURNALISTIK




Tugas Penulisan Berita

 Tugas Penulisan Berita



JAKARTA —- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Bambang Soesatyo atau yang akrab dipanggil Bamsoet menyebutkan, sejak pertamakali dilantik sebagai Ketua DPR RI, dirinya berharap agar hubungan antara DPR dengan KPK yang selama ini “panas dingin” berangsur-angsur mencair atau membaik.
“Sejak dilantik, saya mencoba berkoordinasi dengan Pimpinan KPK, salah satunya untuk memperbaiki hubungan yang sebelumnya sempat renggang, selain itu kita juga meningkatkan kerjasama dengan KPK, alhamdulilah hubungan antara kedua institusi tersebut saya rasa semakin membaik, mudah-mudahan ke depannya terus membaik” jelasnya saat di Gedung KPK Jakarta.
Kedatangan Bamsoet dalam rangka menghadiri undangan acara “KPK Mendengar” yang diselenggarakan di Gedung KPK Jakarta.
Menurut Bamsoet, dirinya tentu saja tidak menginginkan citra DPR sebagai wakil rakyat terus memburuk di mata masyarakat dan sering mendapatkan kritik, salah satunya karena hubungannya dengan KPK yang kurang harmonis.
Menurutnya, salah satu hal pokok yang harus diperbaiki untuk mengembalikan hubungan baik antara KPK dengan DPR adalah masalah Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket. Bamsoet mengiginkan agar kesimpulan terkait hasil Pansus Hak Angket DPR terhadap KPK dapat berjalan dengan baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
Bamsoet berharap Pansus Hak Angket segera diselesaikan, sehingga ke depan tidak ada lagi ganjalan atau rintangan yang mempengaruhi hubungan baik antar kedua lembaga Pemerintah tersebut.
“Pada prinsipnya DPR hingga saat ini masih tetap berkomitmen untuk terus mendukung kinerja KPK, khususnya dalam hal pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Penanganan kasus perkara korupsi di Indonesia tentu saja tidak bisa hanya dilakukan oleh KPK saja, melainkan juga semua elemen masyarakat, termasuk di antaranya juga wakil rakyat yang ada di parlemen” pungkas Bamsoet.
Sementara itu Ketua KPK Agus Rahardjo saat jumpa pers mengatakan bahwa pihaknya berterimakasih dan mengapresiasi tetkait langkah-langkah yang diambil Pimpinan DPR dalam rangka memperbaiki hubungan atau koordinasi antara kedua lembaga tersebut. Dirinya berharap bahwa hubungan atau kerjasama yang semakin baik tentu saja akan memperkuat semangat pemberantasan korupsi di Indonesia.

Wawancara artis Abdel ahlcrian

Senin (21/5/2018)
Saat ini saya akan menuju ke epicentrum(ANTV) dengan maksud menyelesaikan tugas kuliah yaitu wawancara singkat kepada Pelawak, yang sudah malang melintang di dunia Hiburan Tanah air. Saya melakukan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Wawancara.

Abdel dengan nama lengkap Abdel Alchrian lahir di Jakarta, 27 September 1970. adalah pemeran, pelawak, presenter televisi Indonesia  keturunan Minangkabau. Ia memulai karier sebagai penyiar radio, kemudian merambah dunia lawak melalui situasi komedi Abdel dan Temon bersama dengan Simson Rarameha. 

 Ia juga menjadi presenter dalam acara rohani Mamah dan Aa dengan Ustadzah Mamah Dedeh. Dan Juga ia sekarang masih aktif menjadi Juri di salah satu ajang pencarian bakat Stand up Comedy di Indosiar bersama Raditya Dika, Panji Pragiwaksono dan Ernest Prakasa.